Pitutur Urip Wong Jawa

Menggali Kemuliaan Hidup

November 27, 2013
dyk05
0 comments

Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani

Artinya, di depan memberikan suri teladan, di tengah membangun kemauan dan semangat, di belakang mengikuti sambil mengoreksi dan menjada keselamatan semuanya. Peribahasa ini berasal dari semboyan yang digali oleh Ki Hajar Dewantara. Semula, semboyan ini lebih ditujukan kepada pamong (guru) di lingkungan Taman Siswa. Tetapi, akhirnya meluas menjadi acuan bagi para pemimpin, guru, orang tua, serta siapa pun yang tugasnya berkaitan dengan banyak kalangan.

Hakikat peribahasa ini mengingatkan, siapa pun yang berada di depan, pasti akan menjadi fokus perhatian. Oleh karena itu, dia harus menjaga perilakunya sebaik mungkin karena sikap dan perbuatannya akan menjadi contoh dan ditiru orang lain. Ketika berada di tengah (di antara banyak orang), dia akan mengetahui, mendengar, dan merasakan banyak hal yang berhubungan dengan komunitas tersebut. Karena itulah, dia harus memotivasi dan menyemangati agar orang-orang yang dipimpinnya dapat mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Ketika di belakang, dia akan mengetahui banyak hal yang telah terjadi. Mengerti mana yang benar dan yang salah, mana yang tepat dan yang meleset. Oleh karena itu, dia harus dapat memberikan arahan yang jelas dan tepat, demi menjaga keselamatan dan ketenteraman semuanya. Dykos

November 25, 2013
dyk05
0 comments

Eling Sangkan Paraning Dumadi

Artinya, eling (ingat), sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan hidup). Ungkapan ini merupakan peringatan atau nasihat bahwa manusia berasal dari Allah, dan pada saatnya nanti akan kembali kepada-NYA. Maka dari itu, setiap orang harus selalu mengingatnya. Caranya, antara lain, dengan menghindari perbuatan buruk dengan berpegang pada petunjuk lengkap yang diturunkan lewat para nabi. Semua itu dilakukan lantaran setiap orang juga harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya kepada Sang Maha Kuasa.
Peribahasa ini sering dipakai oleh orang Jawa untuk mengingatkan orang yang hidupnya boleh dikata “rusak”. Tak peduli akan apa yang disebut dengan dosa dan sebagainya. Apabila yang bersangkutan mau memahami, merenungkan dalam-dalam, dan membuka batinnya lebar-lebar, tentunya akan sadar. Bahwa hidup di dunia sesungguhnya memikul tugas dari Tuhan, yaitu berbuat baik. Maka, apabila nilai perbuatannya di dunia buruk, tentu ia akan menerima hukuman berat, sedangkan jika nilainya baik, ia akan menerima ganjaran yang setimpal. Jadi, bagi mereka yang sering melakukan perbuatan tercela segeralah meninggalkannya. Bagi yang telah terbiasa berbuat baik, teruslah menjaga dan meningkatkan kebaikannya sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah melalui nabi dan rasul-NYA. Dykos

April 3, 2013
dyk05
0 comments

Mikul Dhuwur Mendhem Jero

Artinya, mikul dhuwur (memikul tinggi), mendhem jero (mengubur dalam-dalam). Ungkapan ini merupakan nasihat bagi anak agar menghormati orang tua, dengan cara menghargai jasa mereka setinggi-tingginya dan menyimpan jasa tersebut dalam hati sanubarinya. Penghargaan dan penghormatan itu bukan saja disampaikan ketika hidup, tetapi juga setelah kedua orang tua tiada.

Maknanya, seluruh jasa orang tua harus dijunjung tinggi, dihargai secukupnya. Nasihat mereka ditepati. Keinginan mereka sedapat mungkin dipenuhi. Kesalahan mereka dimaafkan. Warisan mereka pun hendaknya dimuliakan. Sementara itu, ungkapan mendhem jero bermakna mengubur jenazah mereka dalam-dalam, tidak boleh terlampau dangkal. Sebab, mayat itu nantinya akan membusuk dan berbau. Andai mengubur si mayat terlampau dangkal, kemudian timbunan tanah makam itu melesak, bisa saja bertebaran bau busuk ke mana-mana. Peristiwa tersebut menyiratkan kenyataan bahwa setiap orang tua tentu memiliki salah, dosa, dan aibnya sendiri-sendiri. Maka, sebagai anak, seyogianya ia menyimpan kisah buruk mereka rapat-rapat. Bukan malah membeberkan atau menyebarkannya ke mana-mana. Dykos

April 1, 2013
dyk05
0 comments

Bathok Bolu Isi Madu

Artinya, bathok (tempurung kelapa), bolu (bolong telu atau berlubang tiga), isi madu (berisi madu). Secara bebas diterjemahkan sebagai tempurung kelapa yang sudah berlubang tiga, namun berisi madu. Padahal, pada umumnya, tempurung kelapa yang berlubang sudah kosong. Daging buahnya sudah rusak, atau habis dimakan serangga. Peribahasa ini sering digunakan untuk menggambarkan orang yang tampaknya bodoh, rendah derajatnya, ternyata memiliki ilmu pengetahuan tinggi serta kearifan yang luar biasa.

Contohnya, serombongan mahasiswa arkeologi datang ke sebuah candi untuk melakukan penelitian. Melihat ada orang tua berpakaian seadanya tengah duduk di bawah pohon, seorang mahasiswa langsung mendekat dan memberi sedekah. Awalnya, orang tua tadi terkejut. Tetapi, sambil mengangguk-anggukkan kepala, pemberian uang ala kadarnya itu pun diterima sang kakek.

Tak tahunya, ketika mereka ketemu dengan petugas cagar alam di sana, yang diminta memberikan penjelasan mengenai candi itu justru orang tua tadi. Dengan fasih dan detail, ia menerangjelaskan seluruh keberadaan candi itu kepada para mahasiswa. Ternyata, orang tua itulah juru kunci candi; pekerjaan yang ditekuni turun-temurun dari nenek moyangnya. Maka, tidak mengherankan jika orang yang tampaknya seperti fakir itu justru memiliki pengetahuan mengenai candi lebih banyak daripada para mahasiswa perguruan tinggi. Dykos

March 30, 2013
dyk05
0 comments

Bolu Rambatan Lemah

Artinya, bolu (sejenis tanaman yang tumbuh merambat), rambatan lemah (merambat di tanah). Terjemahan bebasnya, tanaman bolu yang merambat di atas tanah. Makna yang ingin disampaikan adalah, gambaran dari suatu perkara yang saling terkait dengan begitu rumitnya, sehingga sulit diselesaikan karena masalahnya terus berkembang meluas.

Di Indonesia, contoh permasalahan seperti ini sangat banyak. Misalnya saja, perkara korupsi. Meskipun sudah menggunakan berbagai macam cara untuk mengatasinya, namun tetap saja korupsi belum dapat diberantas sampai tuntas. Bahkan, muncul gejala berkembang kemana-mana. Bahkan, di daerah terpencil pun ada koruptor, mulai dari kelas teri hingga yang berskala ratusan juta rupiah.

Keadaan demikian mengindikasikan bahwa kesempatan dan pelaku korupsi tidak dapat digambarkan seperti halnya “pepohonan besar di hutan belantara”. Melainkan sama halnya bolu yang merambat di tanah, atau rumpun ilalang yang akhirnya akan memenuhi lahan jika tidak dibongkar sampai akar-akarnya. Banyak permasalahan yang tampaknya kecil, sederhana, namun kita jangan terkecoh dan harus tetap waspada. Sebab, jika dibiarkan, bukan mustahil nanti akan menjadi perkara besar yang sulit diberantas karena akarnya telah menjalar ke dalam pribadi jutaan orang. (Dykos)

July 10, 2012
dyk05
0 comments

Aja Nguthik-uthik Macan Turu

Artinya, aja nguthik-uthik (jangan mengusik), macan turu (harimau tidur). Di Jawa, harimau sering digelari raja hutan. Tentu saja, sebutan “raja” tersebut merupakan kiasan atau padanan. Sebab, “kekuasaan” yang diperoleh bukan karena kebijakan, kearifan, dan kepemimpinannya yang baik, melainkan karena sifat perbuatannya yang dinilai kejam, pemangsa binatang lain, gampang marah, buas, liar, dan selanjutnya. Karena itulah, orang yang memiliki sifat seperti itu lazim disamakan dengan macan atau harimau.

Orang bertabiat buruk sebagaimana harimau pada umumnya ditakuti karena setiap saat dapat membuat onar dan membahayakan orang lain. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya dia dibiarkan tenteram (asyik dengan dunianya sendiri), jangan sampai angkaran murkanya kambuh. Manakala yang bersangkutan sedang “tidur” (tabiat buruknya hilang untuk sementara), sekali-kali jangan diganggu atau dibangunkan (dipancing dengan masalah) karena dikhawatirkan sifat buruknya muncul mendadak, sehingga membuat kekacauan dan keributan di mana-mana. Dykos

March 6, 2012
dyk05
0 comments

Dudu Sanak Dudu Kadang, Yen Mati Melu Kelangan

Artinya, dudu sanak (bukan saudara), dudu kadang (bukan kerabat), yen mati (kalau meninggal), melu kelangan (ikut kehilangan). Peribahasa ini merupakan gambaran mengenai eratnya sistem kekerabatan di Jawa, dimana semua warga dihargai tanpa membeda-bedakan keturunan maupun hubungan darah yang ada. Meskipun orang lain, kalau yang bersangkutan mau menyatu atau membaur, maka mereka akan menghargai dan menganggapnya seperti keluarga sendiri.

Orang Jawa memiliki semangat persaudaraan yang tinggi. Semangat itu membuat mereka mudah bergaul, menjalin persahabatan dengan siapa saja. Sebab, persaudaraan (patembayatan) merupakan cara yang ideal untuk menemukan ketenteraman hidup. Di Jawa, menghormati orang lain (misalnya, tamu) sangatlah diutamakan. Terlebih jika sosok itu telah berjasa. Menghormatinya pun akan diwujudkan dengan bermacam cara, sekaligus menjadi manivestasi balas budi kepada sang pemberi jasa. Karena itulah, ketika sosok yang sangat dihormati dan dihargai itu meninggal, mereka akan benar-benar berduka dan merasa sangat kehilangan. Bahkan, terkadang lebih berduka daripada ketika menghadapi kematian sanak kerabat sendiri. Dykos.

November 26, 2011
dyk05
0 comments

Agama Ageming Aji

Artinya, agama (agama), ageming aji (busana berharga). Peribahasa ini lahir dari kepercayaan batin yang dilandasi rasa ketuhanan orang Jawa yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan di dalam hidupnya. Dalam pandangan orang Jawa, agama bukan hanya dipahami dalam tataran rasio atau kognitif saja, melainkan harus diyakini hingga menyentuh hati dan diamalkan dalam setiap perbuatan. Karena itulah, agama lebih sebagai ageman (busana atau pakaian). Sedangkan yang disebut dengan aji di sini merupakan simbolisasi dari raja, atau pemegang tampuk kekuasaan negara. Bagi seorang pemimpin, dalam menjalankan roda pemerintahannya diharapkan selalu berpedoman pada nilai ajaran agama. Atau, dengan kata lain, seluruh kebijakannya harus berpedoman pada nilai-nilai agama yang dianut rakyat.

Dengan bertindak seperti itu, sang pemimpin akan terbebas dari perbuatan negatif yang bertentangan dengan agama, maupun yang menyengsarakan masyarakat luas. Prinsipnya, orang Jawa menghendaki pemimpin negaranya juga menjadi pemimpin umat beragama. Mengapa demikian? Karena, seorang pemimpin yang agamis selalu bertindak berlandaskan ajaran agama dalam menyantuni banyak kalangan. Dengan berbuat demikian, ia menjadi pantas diaji-aji, diajeni, diahargai atas kebijaksanaannya yang dapat diterima oleh agama serta rakyatnya. Dykos.

November 23, 2011
dyk05
0 comments

Bener Ketenger, Becik Ketitik, Ala Ketara

Artinya, bener ketenger (benar ditandai), becik ketitik (baik terbukti), ala ketara (buruk kelihatan sendiri). Peribahasa ini menjadi anjuran agar siapa saja tidak takut untuk berbuat baik. Meskipun awalnya belum tampak, pada saatnya nanti pasti akan menemukan maknanya dan dihargai. Dan, manakala berbuat buruk, sepandai-pandainya menutupi, akhirnya akan ketahuan juga.

Peribahasa ini mengingatkan bahwa semua perbuatan – baik yang benar, baik, mau pun buruk – akan memperoleh ganjaran yang setimpal. Misalnya, berbuat baik kepada orang lain dan telah lama ia tidak membalasnya, maka jangan sekali-kali mengeluh atau merasa kecewa. Sebab, balasan tersebut dapat datang dari mana saja. Bisa jadi datang dari orang lain. Atau, jatuh kepada anak cucu kita.

Siapa pun yang mempunyai niat jelek, sebaiknya mengurungkan niat tersebut. Artinya, jangan gampang melakukan perbuatan buruk, tercela, atau merugikan pihak lain. Di samping hanya akan menghasilkan dosa, jika perbuatan buruk tersebut ketahuan, tentu akan menimbulkan rasa malu yang tak terkira bagi pelakunya. Salah-salah, dia pun selamanya akan dicap sebagai pencuri, tidak lagi dipercaya, dan setiap tindak tanduknya selalu dicurigai oleh masyarakat di lingkungannya. Dykos.

November 16, 2011
dyk05
0 comments

Darbe Kawruh Ora Ditangkarake, Bareng Mati Tanpa Tilas

Artinya, darbe kawruh (mempunyai pengetahuan), ora ditangkarake (tidak dikembangkan atau diamalkan), bareng mati tanpa tilas (setelah meninggal tiada bekas). Peribahasa ini menekankan betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi umat manusia. Karena, dengan ilmu pengetahuan itulah, mereka dapat membangun peradaban kehidupan yang lebih baik.

Di samping itu, masyarakat tradisional (seperti di Jawa) juga memiliki kepercayaan bahwa ilmu itu sesungguhnya milik Allah, dan manusia hanya sekadar nggaduh (dipinjami) untuk digunakan sebaik-baiknya bagi kemaslahatan umat manusia. Sebab, ilmu tersebut bukan hanya berguna bagi seseorang, tetapi sangat diperlukan oleh jutaan umat manusia lainnya. Oleh karena itu, setiap orang yang berilmu, seyogianya membagi ilmu pengetahuannya kepada orang lain, jangan disimpan untuk diri sendiri saja. Dengan mengamalkan ilmu, seseorang akan memperoleh pahala dan ucapan terima kasih dari banyak orang.

Sebaliknya, jika ilmu itu digenggam sendiri, sama halnya tidak mempunyai tanggung jawab kepada Allah atas pinjaman yang diberikan kepadanya. Apabila kelak dirinya meninggal, orang tidak akan menghargainya karena yang bersangkutan juga tidak pernah memberikan kebaikan (jasa) kepada masyarakat luas. Dykos.